Kabur Sejenak: Edisi Pulau Tunda!

Kebiasaan freelance bikin aku mikir, “bener enggak ya keputusan aku buat kerja tetap kayak gini?” Ini bukan perihal nyesel atau pengen ngeluh, tapi kerja tetap yang ngehabisin lebih dari 1/3 waktu dalam sehari ini bikin aku enggak leluasa buat ‘kabur’. Pemasukan emang lebih stabil, tapi aku jadi hilang waktu untuk nikmatin waktu senikmat-nikmatnya. Maklum, mantan anak… Continue reading Kabur Sejenak: Edisi Pulau Tunda!

Biarku Jatuh, Padamu Berkali-kali

Ketidakterdugaan itu, kamu. Siapa sangka kala itu kita bertemu? Melanjutkan dengan canda hingga akhirnya berbagi rasa. Aku tak pernah lupa, bincang-bincang penuh tawa di suatu tempat yang jauh dari kota. Kita berdua pada akhirnya menemukan cara, tuk menyamankan suka hingga lepas dan terlena. Hingga senyum pun tak temukan ujung atau pangkalnya. Di luar biasaku itu,… Continue reading Biarku Jatuh, Padamu Berkali-kali

Terbang Menyenandung ke Langit Musik

Aku sejatuh cinta itu sama puisi, dan lagu itu ibarat puisi yang bisa disenandungin. Puisi dan lagu enggak pernah gagal buat gambarin perasaan, sampai ngewakilin apa-apa yang bahkan mau baru mau disampaikan. Kadang ketika lagu lagi muter, aku langsung ngerasa jadi tokoh utama dalam cerita di lagu itu. Dramatis abis. Dari enggak galau, jadi ikutan… Continue reading Terbang Menyenandung ke Langit Musik

Kepada Tuan, di Antara Diam-diam

Sumber: Dokumen Pribadi Pagi sunyi, dan langit-langit kamar dengan penuh khayal. Ada suatu yang berulang, perihal angan yang dilakukan diam-diam. Tuan dengan punggung harapan, sebagai matahari yang muncul di simpang jalan. Pagi dengan kaca-kaca yang bersisian. Nyata saling tumpang-tindih, pada tiap jengkal ke mana pun mata hendak larikan diri. “Bawa saja kenyataan, biar ditimang keakuanku oleh bayang-bayang.”… Continue reading Kepada Tuan, di Antara Diam-diam

Kepada Luka di Hati Laki-laki

Bergelut pikir, mencari cercah cahaya pada ujung kata-kata. Nyatanya tak ada. Diam jelma bangku yang nyaman untuk disinggah. Oleh pundak-pundak yang lelah memikul salah. Di balik jendela, terputar sebuah drama. Perihal keping yang cerita, tentang kesepian yang dikasihi dengan mesra — sejak langkah laki-laki menjadi lebar dengan tatih, membawa luka pada hatinya. Ia merunduk takluk,… Continue reading Kepada Luka di Hati Laki-laki

Kepada Pelukan

Jarum jam tak menunjukkan waktu Berputar-putar Putar Berlalu Dan manusia hanya menjadi makhluk yang ragu Tanpa mampu tentu Kembalilah, kemarilah Jangan terlalu jauh Duduk di sini Sebab dari daun jendela yang lebar Cahaya mengintip Hendak mengenalmu Setelah lama (hanya) bercokol dalam gelap lamunku Kembalilah, kemarilah Selepas berkelana, bisakah lipat jarak bersama? Menumpuknya di ujung pintu Agar… Continue reading Kepada Pelukan

Mabuk Keindahan, Kalimantan

Beberapa waktu belakang, waktu banyak ku habiskan untuk ngebolang di Kalimantan. Terkadang dalam rangka berlibur asyik, terkadang karena urusan dinas, pun pernah juga karena keisengan yang luar biasa. Baru beberapa daerah, sih. Tapi Kalimantan udah berhasil buat aku jatuh cinta, sejatuh-jatuhnya. Dimulai dari Balikpapan. Kota ini jadi sering ku kunjungi karena kebetulan Ayah ku sedang… Continue reading Mabuk Keindahan, Kalimantan