Kegelisahan Seorang Kakak dan (Calon) Ibu Masa Depan

image

Sumber: Dokumen Pribadi.

Udah lumayan lama enggak merhatiin media sosial (medsos). Akhirnya baru kemarin lagi mengarungi, setelah pembicaraan dengan seorang sahabat.

Sejak pembicaraan kemarin — tentang kondisi dan tren yang beredar di medsos –, ada kegelisahan yang benar-benar mengganggu hingga detik aku menuliskan tulisan ini. Kekhawatiran tentang masa depan, yang sekiranya nanti, peranku adalah sebagai orang tua. Pun kegelisahan saat ini, ketika aku adalah Kakak bagi Adik-adikku.

Bukan ingin menjadi (sok) reliji atau yang memiliki moral tanpa celah. Di sini, aku hanya ingin berbagi.

Entah mulanya dari mana, tema pembicaraan kami tetiba mengerucut. Tentang kegilaan anak-anak muda dengan segala embel #RelationshipGoals yang sampah, umbar-umbar ciuman dan bangga bisa touchy-touchy di lini masa, pemilihan role model yang hanya berlandas banyaknya followers orang tersebut di medsos, edukasi seks tanpa pengawasan orang tua berujung icip-icip langsung dan bablas, dsb dsb. Seketika aku habis pikir, kepada orang-orang yang sepertinya udah enggak bisa mikir. Ini terlalu gila. Ini terlalu enggak masuk logika ku sebagai orang yang mungkin dibilang punya pemikiran ‘jadul’.

Lebih baik aku bergelar kolot atau kuno, daripada aku berusaha menjadi diri yang terkini, hingga hilang harga diri itu sendiri.

Apa esensi dari mengumbar adegan berciuman, grepe-grepe badan, hingga menjadi sebuah viral yang berujung menjadi panutan? Aku tak mendapat jawabannya.

Belum lagi masalah toleransi yang salah kaprah. Tentang apa-apa yang terjadi, menjadi dibenarkan dengan label keterbukaan. Cinta sesama jenis dan kebinalan gaya berpacaran diagungkan. Edan.

Mengapa pula anak sekarang berlomba meminimkan baju, lantas menebalkan dandanan mereka hingga hilang rupa aslinya? Kenapa mereka menjadi begitu bangga bisa memamerkannya?

Tidak kasihankah kepada orang tua? Tidak kasihan sama Ayah yang semakin terseret ke Neraka? Tidak malu menjadi perbincangan siapapun yang menengok lini masa? Atau memang ini adalah hal yang patut dibanggakan masa kini?

Belum lagi, segala kegiatan dikemas menjadi pesta, mengundang DJ, joget sana-sini. Pun berbanyak-banyak menghabiskan uang orang tua demi mencicip café ter-hitz yang baru dibuka.

Memang zaman sudah maju. Banyak hal dan kebiasaan berubah sejak masaku. Hanya saja, ku rasa ini semua dibarengi dengan mereka yang sekadar memiliki otak seperti baru saja belajar memecah batu. Salah kaprah. Bukan memudahkan, malah terjerumuskan.

Entah mau menyalahkan siapa, karena aku pun tak tau fenomena ini bermula dari mana. Sinetron di televisi kah? Gaya didik orang tua masa kini kah? Atau salah aku dan orang-orang sepertiku yang menolak untuk beradaptasi dengan zaman paling terkini?

Sungguh, aku sangat khawatir. Aku menghawatirkan nasib Adikku. Aku menghawatirkan nasib peranku di masa depan untuk menyelamatkan Anak-anakku. Itu saja.

Untuk Adikku, baik-baik memilih teman. Jangan menjadi laron yang silau dengan gemerlap zaman.

Untuk (calon) Anakku (yang masih nanti-nanti), kita pindah planet saja yuk? Biar kamu enggak ikut edan setalah berhadapan dengan zaman yang malah makin edan.

Salam,
Adz dengan rasa dan pikir
yang tak menentu.

Cerita Jogja (Bagian Dua)

Hehehe, post ini isinya melanjuti Cerita Jogja pertama yang dipotong sampai tanggal 25 Desember. Di post Cerita Jogja (Bagian Dua), cerita dilanjutkan mulai tanggal 26 — 30 Desember 2015.

***

Tanggal 26 Desember

Setelah bingung menentukan destinasi hari ini, akhirnya kami (aku, Kak Fasy, Nira, dan Bimo) memutuskan cabut ke Kalibiru dan Pantai Glagah. Naik motor. Alasannya, menghindari macet. Mengingat ini memang (masih) libur panjang dan orang-orang kurang piknik pasti beramai-ramai pergi piknik.

Walaupun di motor, yang belakang tetep sadar kamera. Ntaph.

Aku yang punya ekspektasi berlebih terhadap Kalibiru harus menelan kecewa bulat-bulat. Soalnya, pemandangan di sana enggak se-wah bayangan aku. Terus mau ngapain juga bingung. Belum lagi, di tempat ‘sekecil ini’ lautan manusia yang berkumpul ramai banget kayak para Slankers yang mau nontonin band pujaannya.

Jalan dikit “cekrek” .

Bimo foto bersama Slankers.

Muka bete tapi tetep kudu poto-poto di tengah para Slankers.

Foto masterpiece di Kalibiru.

Ini candid beneran kok. Adz nda tau kalo Nira motoin. :”)

Bete gegara Kalibiru enggak sesuai ekspektasi. Lalu dicandid sama Nira pas mau balik ke parkiran. Tapi itu punten, yang baju garis-garis belakang kenapa sadar kamera mulu ya?

Karena hal itu, kami enggak lama di Kalibiru, cuma sekitar 30 menit untuk sekadar numpang foto. Setelahnya, kami langsung berangkat ke Pantai Glagah. Dan pas nyampe sana (walaupun udah sore) TETEP AJA itu pantai panasnya Subhanallah. Yaaa walaupun gitu, tetep aja yang namanya fefotoan mah wajib dilaksanakan.

Pantai Glagah dengan batu-batu khasnya.

Walaupun kepanasan dan kesilauan sampai sipit merem-merem, foto mah tetep wajib.

IMG_1395

Mau foto kekinian tapi gagal.

IMG_1490

Hehehe, nyantai lucu di pinggir pantai. Hehehe. Hehe. He.

Gaya wajib ala Kak Fasy.

 

Tanggal 27 Desember

Hari ini, kami bangun beneran bangun siang. Aku sih sebenernya udah bangun dari subuh, cuma abis itu tidur lagi, bangun lagi, tidur, bangun, dan gitu terus-terusan sampe jam 1 siang. *pencitraan*

Cuma Kak Fasy seorang yang jam 7 atau 8an udah bener-bener bangun, udah mandi, udah cakep. Itupun karena doi ada janji mau kopdar bareng Febri dan Kak Ata. Aku nda ikut, ya karena waktu itu aku juga belum kenal sama Kak Ata. :”))

Setelah Kak Fasy balik dan semua orang (aku, Nira, dan Bimo) udah cakep, sekitar jam 2an, kami berangkat menuju Museum Merapi. Perjalanan lumayan jauh. Dan kampretnya, itu museum udah tutup pas kami sampe. Bingung, akhirnya kami memutuskan buat makan di Jejamuran. Tempat makan yang semua makanannya berbahan dasar Jamur. Tapi tenang aja, enggak ada menu jamur kaki atau jamur kulit. Serem aja kalau beneran ada. Bakal trauma sama makanan jamur.

Setelah makan, kami sengaja mengulur waktu sampai rada gelap. Soalnya, destinasi lanjutan kami adalah Taman Pelangi. Di Taman Pelangi, sebenernya aku janjian sama adik asuh aku pas di kelompok pecinta alam jaman SMA, namanya Afif. Tapi karena kondisi jalanan yang macet parah, doi gagal mencapai Taman Pelangi dan kami enggak jadi ketemu.

Taman Pelangi, Yogyakarta.

Kak Fasy dan belahan jiwanya.

Adz dan kembarannya.

Foto mantap dan kekinian tapi tetep wes gagal keren.

Terang dikit “cekrek”.

 

Tanggal 28 Desember

Rencana hari ini adalah mantai asik! Sayang atuh ih masa aku udah bawa bikini tapi enggak dipake. Ya kan? Cnd ding. Mana seksi aku pake bikini.

Lagi-lagi, karena kami serius mau mantai asik, perjalanan yang harus kami tempuh hari ini cukup jauh. Kami (aku, Kak Fas, Nira, Bimo) memutuskan buat beli jajanan lucu di mini market dan sarapan rangkap makan siang dulu di Sop Ayam Klaten. Enak. Lumayan buat isi tenaga demi kuat mencapai pantai di daerah Wonosari Gunung Kidul yang jauhnya lumayan bisa bikin pantat aku kebas. Banyak kejadian lucu di jalanan. Selain emang kami berempat hobi karoke dadakan, ada juga tragedi nge-hus-hus-in mobil di depan yang mau nyalip tapi enggak liat sikon. Bikin ngakak.

Nah, pantai di daerah Wonosari Gunung Kidul ada banyak. Dari sekian banyak itu, kami memilih Pantai Indrayanti buat asik-asikan sampai matahari terbenam.

Pantai Indrayanti, Wonosari Gunung Kidul .

Bimo galau. Kalo kata Kak Fasy, Bimo sedih karena enggak bisa ajak Sekar ke pantai pas Sekar ke Jogja.

Kegirangan main air.

Kapanpun di mana pun foto bareng dulu.

Senja yang mencuri dengar pembicaraan kita.

 

Tanggal 29 Desember

Jalan-jalan terakhir. Mengingat besok aku sama Kak Fasy udah balik Bandung dengan kereta jam 2 siang. Personil buat jalan hari ini cuma tiga; aku, Kak Fasy, sama Nira. Bimo enggak ikut. Doi ada temannya (Doni) yang semalam baru aja sampai Jogja.

Tapi, sebelum jalan-jalan, kami mampir dulu ke TVRI Jogja. Buat nge-check peluang magang demi kemaslahatan semester akhir aku. Abis selesai nge-check segala macam, kami bertiga brunch (breakfast and lunch), kami lapar.

Setelah brunch  makanan Makassar, kami jalan-jalan ke Tamansari. Lagi-lagi ngikutin bm-nya (banyak maunya) aku. Tapi lagi-lagi, ekspektasi aku enggak sesuai kenyataan. Sekampret-kampretnya libur panjang lah yang ngebuat segala tempat jadi penuh dan maksa aku menelan semua kekecewaan. Hiks. Gegara keramaian itu juga, semangat membaranya aku yang mau hunting foto jadi padam gitu aja.

Entah kenapa, outfit aku selalu sama atau senada sama Kak Fasy. Padahal enggak pernah janjian.

Reinkarnasi selir Raja yang mau mandi di Tamansari.

Mz ganteng amat. Mau kenalan boleh?

Ada eneng-eneng duduk sendirian di Tamansari. Barangkali ada yang mau nemenin, boleh lah bahunya dicolek dikit.

Fotonya sih ngeliat ke arah berbeda, tapi semoga aja kalau masa depan sama-sama liat ke arah sama. E, gimana?

Beres dari Tamansari, kami bertiga balik ke rumah. Rekor selama ada di Jogja; hari masih terang, tapi kami udah di rumah! Hahaha. Tapi rekor itu enggak bertahan lama. Malamnya aku, Kak Fasy, Nira, sama Febri keluar lagi, mau makan Oseng Mercon. Bimo sama Doni enggak ikut. Mereka makan di tempat lain. Tapi ujungnya, beres Bimo sama Doni makan, mereka berdua nyusulin kami berempat di Oseng Mercon.

Gosip jadi hal wajib kalau lagi kumpul-kumpul. Enggak kerasa, kami gosipan gitu sampai jam 11. Kenyang iya, dosa makin numpuk juga iya. Dasar manusia. Tapi, walaupun udah tau dosa numpuk, beres gosip di Oseng Mercon, aku, Kak Fasy, sama Febri lanjut ngegosip lagi di Dongeng Kopi, nyusulin Kak R. Nira balik dulu abis nganterin aku ke Dongeng Kopi. Bimo sama Doni juga langsung balik ke rumah. Aku yakin, sebenernya mereka enggak mau numpukin dosa gegara gosip doang. Makanya mereka enggak ikut. Wqwq.

Gosipnya aku, Kak Fasy, Febri, dan Kak R, berlangsung sampai jam 1. Lumayan lah, sekalian pamit-pamitan ke mereka karena besok aku sama Kak Fasy mau balik ke Bandung.

 

Tanggal 30 Desember

Hari terakhir. Hari di mana kami diem doang di rumah, nda kemana-mana. Istirahat sekalian packing barang-barang. Sedih sih, tapi ada juga perasaan “yeay, akhirnya pulang”. Gitu. Ya, walaupun sebenernya aku enggak pulang ke Bekasi juga. Nyampe Bandung nanti, aku dijemput dan langsung berangkat lagi ke Anyer nyusulin keluarga aku. Hufd. Lelah.

Sebelum bener-bener balik, kami (aku, Kak Fasy, Nira, Bimo, Doni) beli bakpia buat oleh-oleh. Habis itu, kami makan siang. Beres makan, kami langsung buru—buru cabut ke stasiun, mepet banget! Untung sih enggak telat, jadi enggak perlu pake adegan lari-larian gegara ketinggalan.

Di stasiun, baru berasa beneran sedihnya. Kalo perasaan pribadi, aku sedih karena kudu LDR lagi sama Nira. Pengen banget gitu peluk-peluk pas lagi perpisahan. Tapi gegara bocah-bocah kampret (Kak Fasy, Bimo, dan Doni) yang ngeledek-ledekin, aku jadi malu buat sedih-sedihan. Jadi aja aku sok tegar menghadapi kenyataan. Padahal, Bang, hati Adek nih rapuh nian. Huhuhu.

Mengenyampingkan sedih-sedihan, aku tetep seneng sangat teramat banget-bangetan dengan sesungguh-sungguhnya. Ngerasa makasih banget buat Nira yang rela ngasih tempat tinggal buat aku dan Kak Fasy biar enggak jadi gelandangan selama di Jogja, makasih udah nemenin kemana-mana juga. Makasih juga buat Bimo nyebelin dengan segala kenyebelinnya yang bener-bener nyebelin. Makasih juga buat Sekar walaupun kita enggak main lama karena kamu pulang. Makasih buat Kak R dan Febri karena udah luangin waktunya buat aku sama Kak Fasy. Makasih Oom Gus yang tetep nyempetin ketemu walaupun pakedrama yang ngeselin. Dan sebanget-bangetnya makasih buat Kak Fasy atas perjalanan Bandung-Jogja-Keliling Jogja-Bandung lagi yang bikin remuk badan tapi senang, makasih karena plan liburan kita tetep jalan walaupun banyak badai menerjang pun banyak rintangan menghadang. Aku senaaang sekali! Love kalian banget lah pokoknya. Tapi tetep love khusus buat Nira. Bonus ciyum. Muah! Hehehe. Sampai ketemu lagi di lain waktu dan tempat, ya!

Cerita Jogja

Manusia boleh bikin rencana se-ntaph-ntaph-nya, tapi faktor ke-kampretan oknum tak terduga bisa jadi penyebab ketidaksesuaian rencana bermula. (Adz, 2016)

***

HAHAHA! Udah lewat dari seminggu setelah kejadian di mana akhirnya quote itu tercipta. Tapi namanya manusia, kadang ngedumelnya suka dipanjang-panjangin. Manusia penuh drama. Aku contohnya.

Sebenernya, di tahun 2016 ini aku pengen menjadi anak kalem yang ngomongnya enggak pake cabe. Ya kalo sekalinya pake, satu atau dua cabe rawit cukuplah ya. Enggak usah sampe belasan cabe rawit apalagi cabe rawit merah yang semok itu. Kasian, nanti yang dengernya bisa, ehm, mencret.

Begini ceritanya, awal 2015 lalu, aku bareng KakFasy (Bandung), Oom Gus (Banjarmasin), dan Kak R (Aceh-Jogja) ngebuat rencana yang super awesome buat kopdar. Setelah sekian lama rencana kopdar itu menjadi sekadar wacana, akhirnya Desember 2015 kami beneran ketemu. TAPI, prosesi ketemuan ini enggak berlangsung adem-ayem dan semulus gundulnya Ahmed Dhanski. Drama tetep jadi bumbu paling top yang ngehuru-harain pertemuan kemarin.

Jogja menjadi destinasi yang kami sepakati berempat. Alasannya, setelah dari Aceh, Kak R ngelanjutin studinya di salah satu univ di Jogja. Terus, kebetulan lainnya, manusia hantu a.k.a. Oom Gus mau ke Jogja ngunjungin nyonyah-nya doi yang studi juga di Jogja. Sedangkan aku sama Kak Fasy mah anggota geng paling hayuk dan ngikut aja. Jadilah si Jogja ini di-iya-in biar cepet.

Destinasi udah, tanggal jadi masalah. Ribet emang janjian sama mahasiswa S2 super sibuk sama orang jauh beda pulau. Nentuin tanggal ketemu aja kayak nentuin ‘tanggal baik’ untuk prosesi nikahan. Singkatnya, setelah proses panjang yang bikin mesen tiket jadi mepet, tanggal 23 – 30 Desember 2015 ditentuin sebagai tanggal keramat pertemuan kami berempat.

***

Sebelum 23 Desember

Mendekati tanggal janjian, Oom Gus sama Kak R menghilang. Mereka seakan enggak ada antusias-antusiasnya buat ketemu. Grup sepi. Aku sama Kak Fasy sebel. Dan akhirnya, aku sama Kak Fasy asik sendiri ngobrolin rencana-rencana kami via personal chat (pm). Kami bertekad, nge-Jogja ini harus jadi. Entah jadinya kopdar berempat, atau aku sama Kak Fasy ngeasikin liburan bareng temen-temen lain di sana.

Target dan rencana semula sesuai ‘janji Kak R’ kami rontokin mentah-mentah. Kami akhirnya membuat target destinasi baru. (Kak Fasy doang sih yang asik nge-list. Aku ceritanya lagi sibuk ngeberesin tugas akhir dan ujian. Nurut sama apapun keputusan. Maklum, masih anak kuliahan. Hehe. Sok sibuk gegara masa-masa ujian.)

 

Tanggal 23 Desember

UAS beres. Tugas akhir kelar. Beberes dan bebersih kamar kosan (yang bakal ditinggal 2 bulan lebih karena liburan) beres juga. Sekitar jam set.4 aku langsung berangkat ke rumah Kak Fasy di daerah Arcamanik. Soalnya, aku sama Kak Fasy naik travel ke Jogja gegara kami kehabisan tiket karena libur panjang.

Perjalanan pakai travel ini juga punya cerita kampret. Singkatnya, travel ngaret dari jam 7 jadi jam 9 malam. Terus karena salah penjemputan salah satu penumpang, keluarga batu yang angkuh dan ngeselin, serta manajemen travel yang enggak pedulian, aku sama Kak Fasy kudu bersabar berdempetan 4 orang (seharusnya cuma bertiga) di satu baris mobil selama perjalanan Bandung-Jogja. Dan perlu ditekanin, kalau orang-orang ini enggak kurus dan enggak kecil. Belum lagi, perjalanan yang normalnya 8-9 jam jadi ditempuh selama 14 jam lebih! Pantatku sayang, pantatku malang.

Sabar.

Berdempetan di travel. Liat tuh, aku aja cuma muat mata separo. Di belakang punggung Kak Fasy pun nyempil Mbak-mbak satu.

Berdempetan di travel. Liat tuh, aku aja cuma muat mata separo. Di belakang punggung Kak Fasy pun nyempil Mbak-mbak satu.

 

Tanggal 24 Desember

Aku sama Kak Fasy nyampe di rumah Nira sekitar jam set.12 siang dengan muka kucel macem orang enggak kena air satu abad. Banjir keringet pula. Dan ketika masuk rumah, ternyata di rumah Nira juga ada saudaranya Nira (Bimo) dan ‘anuan’ saudaranya (Sekar). Mereka juga nginep di rumah. Asik lah, jadi banyak temen main.

Setelah halo-halo lucu ke Bimo dan Sekar, aku sama Kak Fasy beberes barang dan bebersih badan. Setelahnya kami (aku, Kak Fasy, Nira, Bimo, dan Sekar) cabut buat makan dan jalan-jalan ke Gumuk Pasir.

Gumuk Pasir, Yogyakarta.

Gumuk Pasir, Yogyakarta.

Biar bisa pasang tagar #FromWhereIStand

Biar bisa pasang tagar #FromWhereIStand

Anaknya kegirangan. Maafin aja.

Anaknya kegirangan. Maafin aja.

Foto ntaph bareng Kakak Fasy.

Foto ntaph bareng Kakak Fasy.

Berdua memang lebih ena'.

Berdua memang lebih ena’.

Foto rame-rame biar keliatan punya temen beneran. (Kiri-kanan: Bimo-Sekar-Nira-Adz-Kak Fasy)

Foto rame-rame biar keliatan punya temen beneran.
(Kiri-kanan: Bimo-Sekar-Nira-Adz-Kak Fasy)

 

Tanggal 25 Desember

Karena jetlag perjalanan kemarin, hari ini aku bangun siang, sekitar jam 9an. Enggak kok, enggak aku doang, tapi Nira juga bangunnya siang. Ini aku nyari temen banget emang. Nda mau disalahin sendiri. Hehehe. Singkatnya, setelah bangun dan siap-siap, aku, Kak Fasy, sama Nira cari makan. Bimo sama Sekar enggak ikut. Soalnya mereka jadi relawan paduan suara buat acara natalan di gereja yang ada di depan rumah persis. Mumpung tanggal 25, katanya. Tapi canda ding, Bimo enggak ikut soalnya nemenin Sekar packing karena Sekar mau balik ke Jakarta siang ini.

Setelah makan, kami bertiga balik lagi ke rumah dulu. Dadah-dadah lucu sama Sekar. Setelah Sekar pulang dan para lelaki kelar Sholat Jum’at, aku, Kak Fasy, Nira, sama Bimo, cabut lagi ke Sindu Kusuma Edupark (SKE). Kebetulan, SECARA TIBA-TIBA, Kak R ngontak dan ngajak ketemu bareng Oom Gus juga. Dalem hati, “HAHAHA AKHIRNYA YA DUA BOCAH INI NONGOL JUGA.” Jadilah Kak Fasy bilang sekalian aja kami ketemu di SKE.

Kami janjian jam 14.00. Kami tepat waktu, tapi Kak R sama Oom Gus ngaret. Nyebelin. Ya walaupun gitu, ketemuan geng ini asik. Kami ngobrol ini-itu, kesana-kemari, kemana-mana, dan enggak lupa putu-putu ashoy. Tapi namanya juga idup, tetep aja ada dramanya.

Foto-foto dulu sebelum Kak R dan Oom Gus dateng.

Foto-foto dulu sebelum Kak R dan Oom Gus dateng.

Lirik-lirik manja nan menggoda.

Lirik-lirik manja nan menggoda.

Jadi gini, sebelum Kak R dan Oom Gus sampai, aku yang dapet label ‘adik nyebelin dan bawel’ ini mengontak dengan pura-pura ngambek di grup kami. Menanyakan keberadaan mereka yang bilangnya sih berangkat barengan.

Chat menyebalkan Adz di grup geng Calon Orang Kaya yang Sholeh(ah).

Chat menyebalkan Adz di grup geng Calon Orang Kaya yang Sholeh(ah).

Karena chat itu, pas Kak R, Oom Gus, dan nyonyah datang. Tau-tau aku dapet bonus muka asem berlipet-lipet dari si nyonyah. Doi semacam enggan menyalami aku dan Kak Fasy. Tapi, demi menghargai pertemuan baru, aku nurunin gengsi dan nyalamin doi duluan; berharap keadaan mencair dan pertemuan ini bakalan berjalan dengan ntaph. Eh, memang wanita mood-nya suka lebih kampret dari segala hal paling kampret, abis salaman sama doi yang cuma nyentuh seujung jari, doi langsung buang muka gitu aja dong. Senyumin aja aku mah. Dan sekitar 10 detik setelah salaman, nyonyah bilang ke Oom Gus mau ke kamar mandi. Alasan. Padahal aku yakin seyakin-yakinnya kalo doi mau cabut aja dari perkumpulan kami.

Foto anak Geng Calon Orang Kaya yang Sholeh(ah).

Sepuluh menit, nyonyah enggak balik. Lima belas menit, doi masih enggak balik juga. Dua puluh menit, dua puluh lima menit, masih enggak balik, dan akhirnya Oom Gus berinisiatif untuk mencari nyonyah yang mungkin aja secara enggak sengaja ke-flush di toilet. Setelah Oom Gus menghilang, aku, Kak Fasy, Kak R lanjut rumpi asik sambil foto-foto lagi. Nira sama Bimo sudah memisahkan diri. Mereka nda mau ganggu acara kopdar kami, katanya.

Foto ketika Oom Gus sedang menyelamatkan nyonyah yang ke-flush di toilet.

Foto ketika Oom Gus sedang menyelamatkan nyonyah yang ke-flush di toilet.

Selama Oom Gus ikutan belum balik, datang lah satu teman blog Kak Fasy lainnya yang ternyata teman blog aku juga. Namanya Febri.  Ternyata, sedari tadi, Kak Fasy juga berkontak-kontakan sama Febri. Tenang aja, pertemuan ini juga ada dramanya. Dan drama pertemuan dengan Febri bisa dibaca di sini atau di sini.

Febri gabung, Oom Gus muncul. Tetap tanpa nyonyah. Dengan muka segen dan enggak enak, Oom Gus berusaha meredam keadaan tragedi nyonyah dengan alasan, “maafin ya, doi lagi ‘tanggalnya’.” Aku sebel. Maksimal. Cuma untungnya, sebelnya aku itu masih bisa ketutup dengan antusiasnya pertemuan kami berempat, dan ditambah Febri pula. Jadi enggak papa lah. Dalam hati aku, ada atau enggak adanya nyonyah juga enggak berpengaruh.

EH, tapi ternyata saudara-saudara! Keberadaan nyonyah ini ada pengaruhnya dooong. Doi yang ogah join dalam acara kopdar membuat Oom Gus harus fleksibel bolak-balik (antara kami dan si nyonyah). Muka Oom Gus enggak lempeng asik gitu. Muka Oom Gus setengah kusut dan kentara banget hawa-hawa sungkan, enggak enak, dan minta maafnya. Fix, aku mendeklarasikan kalau aku enggak suka dengan sikap nyonyah yang menurutku sangat kekanakan. Sorry to say kalau ternyata nyonyah baca tulisan ini. Aku enggak peduli. Sama kayak sikap enggak peduli dan enggak ngehargainnya doi atas pertemuan kami yang sakral ini. Nyonyah boleh lah sebel, tapi enggak semena-mena kayak sekarang. Aku yakin, doi sangat tau bahwa usaha kami untuk sekadar bertemu kayak gini enggak sedikit. Kami benar-benar berusaha menyusun jadwal dan ngumpulin uang buat ketemu sesekadar ini. Mana rela aku kalau sampai CUMA gegara doi, pertemuan kami jadi syampah.

Muka Adz yang udah asem gegara kelakuan nyonyah.

Muka Adz yang udah asem gegara kelakuan nyonyah. (P.s. walaupun lagi sebel, selfie tetep wajib nan kudu buat dilakuin. Tq.)

Karena sebel yang kebangetan, mulutku yang cabe ini udah enggak bisa direm lagi. Aku langsung ngomong, “Oom Gus, mana nyonyah? Sini lah aku mau samperin. Aku mau minta maaf deh. Biar suasananya enggak gini-gini amat. Kita kan mau seru-seruan akhirnya bisa ketemu. Kok ini jadi kampret gini ya pake segala diasemin. Aku enggak suka.

Udah enggak usah, Han. Maafin ya maafin. Tanggalnya dia tuh. Aku mohon enggak usah ya?” Dan, karena muka Oom Gus yang super melas, aku jadi enggak enak hati. Enggak mau juga makin memperkeruh suasana pertemuan kami. Aku nurut karena aku ngehargain banget Oom Gus.

Dengan keadaan gitu, kami tetep lanjut ngobrol. Dengan Oom Gus yang tetep bolak-balik antara kami dan nyonyah. Dengan Oom Gus yang tergesa mengingat dia harus cepat balik ke hotel untuk packing karena dia pulang besok ke Banjarmasin. Dan benar saja, enggak lama, Oom Gus pamit. Sendirian. Nyonyah masih ngumpet di persembunyiannya. Doi bahkan enggak munculin muka untuk ikutan pamit. Tapi bagus sih. Kalo aja dia muncul, pasti langsung aku selepet pake monopod kameranya Kak Fasy. Sebel maksimal. Hih.

Foto ramean sebelum Oom Gus cabut.

Foto ramean sebelum Oom Gus cabut.

Aku masih menyayangkan momen setelah kepergian Oom Gus. Merasa sayang aja gitu, planning satu tahun harus berakhir dengan satu pertemuan yang kakunya melebihi beha baru. Tapi kan life must go on. Kopdar kami (aku, Kak Fasy, Kak R, dan Febri) tetep dilanjutin dengan membahas soal mantan dan ‘revisian’.

Tampang lelah sehabis bahas mantan dan 'revisian' lebih dari 9 sks.

Tampang lelah sehabis bahas mantan dan ‘revisian’ lebih dari 9 sks.

***

Wuidih edyan, panjang bener ya ini tulisan. Tapi guys, sabar-sabar aja nih ya. Cerita nge-Jogja aku masih panjang. Kalau masih mau lanjut baca, bisa klik di sini. Sengaja ku pisah demi kenyamanan kalian pas baca tulisanku. Terimakasih karena udah baca sejauh ini. Tetep semangat dan selamat membaca ya! Uhuy. :’)

Kepada Tuhan, Terimakasih

Aku tak pernah menduga hendak Tuhan langkahkan kemana kakiku. Entah kepada jalan yang tak terlihat ujungnya hingga aku mengenal lelah di perjalanan dan memutuskan untuk berbincang dengannya, atau sengaja diberhentikan untuk merebah rengkuh lengan milik ia yang tanpa duga dihadirkan-Nya.

Bagaimana bisa ku tahu jika Tuhan terlalu pandai untuk tidak membocorkan setetes nyata demi ku sesap bahagia yang sementara? Hingga, dengan begitu sengaja Tuhan menyimpan kenikmatan untuk nantinya ku tegak demi melepaskan dahaga dengan kebebasan yang cuma-cuma.

Sekian lama aku bertanya, pun mempertanyakan keremehan tak satu-satu. Hingga akhirnya, saat ini, Tuhan sedang menjawab dengan menjamuku dalam meja terlingkup bahagia; perpaduan keberadaan Ia, ia, dan tetes cita yang tak pernah ada habisnya.

-ADZ

Bertanya pada Tuhan

Sebatas mana Tuhan ingin bercanda dengan rasa milik hamba-Nya?
Setelah ia meniupkan bahagia demi mengombaknya rok puan yang tertawa, lalu membuatnya jatuh tersandung batu pada detik berikutnya.
Sebab, balon-balon berisi harap yang angkasa sudah dipegang erat pada dua tangannya dan membisik nyata, “waktunya sudah tiba”.

Sebatas mana Tuhan ingin tertawa dengan rasa milik hamba-Nya?
Di tengah panggung sandiwara, jam berdentang lantang tepat pukul dua belas,
memberi sadar,
bahwa,
setelah pertemuan,
kita perlu melepaskan.
Dengan terima?

-ADZ

Deklasifikasi Rasa: Kebangkitan Bermula

image

Selamat malam, Rasa. Bagaimana kabarmu setelah memuruk bersebab lebam? Bukankan kepergian benar menghujanimu degan tinju pertanyaan? Ia menyatakan bahwa dirinya tak pernah bejinjit tinggalkan. Jadi, bukan kesalahannya jika ia tergelincir dan menghujani tinju dengan langkah perginya yang tak kenal getar.

Bagaimana kabarmu, Rasa? Waktu telah berduduk lama merawat luka. Ia begitu mengasihimu dengan timang ulur dirinya agar kamu bisa bermalas-malasan dalam kenang. Tapi perlu kau ingat, bahwa segala memiliki batasnya untuk menyentuh sabar. Bisa jadi waktu pun berlari, hingga tak ada siapa lagi di sisi.

Rasa, bangkit saja, lah. Berhenti bergemul duka dan gandeng sang waktu untuk berjalan menuju cahaya. Mungkin jika senja dicapai kelak, akan ada bayang yang segera memelukmu dengan bangga. Nanti.

-ADZ

Berjalan di Taman

image

Puan bertemu Tuan yang hendak berkeliling taman. Sedang Puan sendiri juga memiliki ingin untuk melihat apa di dalam sana. “Puan, mari kita berkeliling taman. Melihat segala yang mungkin bisa kita lihat. Atau mungkin, jika burung di dahan rindang itu bersiul, kita bisa bergandeng tangan dan terus melangkah ke depan. Waktu tidak sedang memburumu, bukan?”

Puan mengangguk. Tersenyum. Sambil langkah kakinya berjinjit bahagia. Mengiring langkah kaki Tuan di sebelahnya.

Mereka bercengkrama. Puan banyak melempar tanya. Sedang Tuan menjawab dengan seling canda. Banyak bincang berterbang hingga tersimpan di langit angan. Waktu menjadi cemburu, sebab Puan tak lagi menunggu detik-detik dirinya.

Matahari hilang timbul. Daun bergugur. Ketika Puan menengok kebelakang, waktu menampakkan dirinya dan mulai berjalan menyusul dengan buru. Puan kebingungan. Sedang Tuan masih asyik berjalan, menggenggam tangan Puan, dan melangkah dengan tak menentukan arah.

“Tuan, bisakah kau jelaskan padaku tentang kemana kita hendak menuju? Sebab, di belakang sana waktu memburu. Aku takut kita tak pernah sampai pada tuju sedang waktu terlanjur menombak jarum jamnya pada hidupku. Setidaknya, aku ingin tahu kau hendak membawaku kemana sebelum kematian melingkup aku, kita, lebih dahulu.”

“Sesungguhnya aku tak memiliki tuju. Bisakah aku tetap menggenggammu dan menikmati laju sampai waktu berlalu. Belum tentu kan ia hendak memburu dan menombakkan jarum jamnya demi kematian kita yang masih begitu muda?”

Puan panik. Puan hendak mempercepat langkahnya, membawa Tuan untuk gegas dan menentukan tempat untuk sekadar sembunyi dari buruan waktu. Demi membicarakan rencana apa yang membuat abu memiliki warna tertentu. Tapi sayangnya, Tuan tak ingin berlari. Hingga lepaslah genggam untuk Puan yang gesa dan Tuan yang hanya berdiri tanpa kata.

Mereka terpisah. Puan gelisah. Dengan perlahan, waktu bias di belakang. Ia tertawa, sebab Puan kembali memerhatikannya. Matahari hilang di peraduan. Gelap menuntun malam. Perpisahan membuat Puan sesat sendirian. Tak tahu di bagian mana taman menimang Tuannya.

-ADZ