Kita terlalu tebiasa dalam canda.
Kita terlalu terbiasa untuk tak memaknai nyata.
Bahkan kita terlalu terbiasa dalam kita yang tak pernah atau belum pernah sama sekali menjadi kita.
Intinya, kita terlalu biasa. Terlalu membiasakan.
“Sebenarnya siapa yang bikin susah ditinggal: panggungnya? Ceritanya? Atau pemerannya?”, @marismyundah
Sampai pada akhirnya spekulasi membangun dindingnya sendiri. Menumpuk-numpuk permisalan sampai menjadi sebuah kungkungan. Kita terkunci, mengunci.
“Bukan memberi. Bukan juga membuka. Tapi karna satu kata. Sama.”, @marismyundah
Kamu menyajikan abu yang akhirnya memunculkan sebuah pertanyaan, “Lebih ke hitam, atau ke putih, sayang?”
“Tak tahu.”, katamu.
“Itu tergantung kamu. Aku tak bisa memutuskannya sendiri.”, lanjutmu.
“Kita jatuh barengan. Kamu bangun duluan. Aku menyusul. Tinggal sekarang kita tentukan, ke arah mana kita berjalan? Sama atau berlawanan?”, @adzhanihani
Yang aku takutkan, jawaban kita berkebalikan. Dalam pertanyaan, “Hilangkan? Atau biarkan?”
“Sampai tiba di titik di mana: bisa memaklumi yang tak dimengerti dan bisa mengerti yang tak dimaklumi.”, @marismyundah
Masalahnya di sini mungkin adalah kita yang masih sama-sama memungkiri nyata. Bahkan sekalipun kita mengetahui rasa, belum tentu pula kita bisa mengetahui tindakan kita selanjutnya.
Ini semua terlalu rumit dan seperti tak cukup kita membuatnya semakin parah.
Lagi, mungkin ini terlalu dini untuk membicarakan kita yang bahkan belum pernah menjadi kita. Tapi bukan berarti kamu menunggu sampai batas petang, karna itu adalah waktunya aku pulang.
Semoga kamua mengerti. Semoga kita mengerti.
Salam,
-ADZ
“Kita jatuh barengan. Kamu bangun duluan. Aku menyusul. Tinggal sekarang kita tentukan, ke arah mana kita berjalan? Sama atau berlawanan?”, @adzhanihani
sayang sekali aku melewatkan tweet ini, seandainya kita online di detik yang sama, pasti aku retweet sepenuh kasih.
Halo hantu!
Iya. Pertanyaannya adalah kita pilih arah sama atau berlawanan, nih? Iya. Kita. Yang tak pernah menjadi kita.