Hei. Bagaimana kabarmu hari ini? Langit terlalu cerah jika dibiarkan terlewat tuk tebus tidurku yang baru dini tadi. Langit ranahmu indahkah? Pastinya, ya?
Entah alasan apalagi yang membuatku berceloteh dalam gelut bersama diksi-diksi sepagian ini selain alasan itu adalah kamu.
Kamu, kemarin lalu kita telah berbicara abu yang transparan bak konferensi-konferensi untuk capai keterbukaan. Sampai tersandunglah kita pada kata ‘aneh’ tak terdefinisi tapi kita saling mengerti. Aneh untuk sebuah kata ‘aneh’ yang untuk kita. Mulanya dari kamu yang menanyakan lagi dan lagi kenapa gadgetku meminta ulang sebuah konfirmasi pertemanan. Aku hanya menjawab singkat yang langsung membuatmu mengatakan, “Kamu berubah.” entah dengan mimik wajah seperti apa saat itu. Beberapa kali kamu menanyakannya dan akhirnya ku jawab dengan, “Reaksi ada karna sebelumnya aksi dilakukan. Aku berubah pastipun karna suatu penyebab.” sambil aku sendiri bingung dengan celotehku itu.
Obrolan kita dilanjutkan dengan kamu yang menanyakan kabarku. Ya, memang beberapa hari belakangan kondisiku tak baik, tapi sekarang aku sudah kembali, kok. Semoga kamu lega setelah mengetahuinya. Beberapa kali kamu bilang rindu. Beberapa kali pula ku katakan nanti dia cemburu. Kamu tak mengerti kan bagaimana aku bisa menyembunyikan serigala-serigala ini dalam lembut bulu-bulu domba? Aku terlalu jenius untuk berlagak munafik menyembunyikan rasa, mengelabui asa. Asal kau tahu.
Terlalu banyak pula pembicaraan yang kamu berusaha hilangkan. Sampai pada puncak penasaranku, paksa yang diselimuti rajuk ku menjadi senjata yang ku todongkan pada rasa tak enakmu. Sampai semua abu dalam transparansi ini terbuka. Yang justru membuatku malah tak lega.
Pasti kamu bingung kenapa aku masih ingat betul runtut kejadian beberapa hari belakangan ini? Ya karena semua obrolan kita dijaga baik oleh gadget pintar kesayanganku ini. Dia bisa di percaya, walau terkadang keadaannya bisa menjadi begitu mengenaskan dan membuatmu panik seketika. Percayalah, tapi dia begitu kuat.
Kamu, terlalu banyak canda antar kita. Sampai-sampai tak jelas mana maya mana nyata; mana canda mana fakta. Ini terlalu dini untuk membicarakan kita yang bahkan tak pernah menjadi kita. Tapi bukan berarti kamu menunggu petang yang itu akan menjadi waktu dimana aku harus pulang.
Lalu, berhentilah kita pada titik ini? Atau tak berhenti namun terus berjalan yang hanya di tempat? Ah, baiklah. Anggap saja berjalan di tempat kita ini mampu membakan rindu yang semakin bergelambir. Kejarlah sesuatu yang sudah kamu jadikan sebagai tanggung jawabmu. Semoga berhasil, ya. Dan selamat Selasa pagi! Semoga harimu menyenangkan.
Salam dariku,
ming ming paling unyuk sedunia,
-ADZ.
sumpah demi tuhan!! aku bingung ingin memberi komentar apa, bukan karena tulisan kamu yang tidak bagus, hanya saja aku seperti menjadi pemeran di dalamnya. silahkan saja bilang aku lebay, asal jangan sebut aku pembohong. karena bagi aku mendustai tulisan kamu adalah dosa.
Mungkin sebenarnya, kita itu satu. Cuma kita tak satu. Ya? Semoga kamu cepat ‘sembuh’. Masih terlalu banyak rasa yang belum kita cicipi. Xixi.