Yang namanya masa lalu, sayang, tak kan terulang.
Yang namanya masa lalu, sayang, kan menjadi sekedar kenang.
Jengah memang meraja.
Ombak menerpa-nerpa pijak pertahanan.
Dalam gemelut rasa, aku berdoa, untukmu, untuk kita.
Indah, pada akhir, dapat tergenggam. Ya.
Apa yang kau sesali?
Firasat hanya sekedar firasat.
Inginmu pun sekedar kaku dalam lalu.
Langkah sudah menjauh, bukan?
Aku yang masih tetap dalam bisu. Saja. Sendiri.
Rasa tak rupa.
Yang dimengerti oleh hanya si hati.
Angan dalam geruji.
Nada dalam simfoni. Gelap.
Dekap menjauh, tak kenal kata pasti.
“Rasakan!”, kata si waktu.
Aku, hanya tergugu.
“Semua sudah berlalu.”
“Iya. Semua sudah berlalu.”
“Itu kan dulu.”
“Iya. Itu cuma dulu.”
Lambat laun buku tertutup, ditumpuk, dilupakan. Semoga.
Lambat laun luka mengering, hilang. Semoga.
Lambat laun harap terkikis, mengecil, tak lihat. Semoga.
Lambat laun rasakan menjengah. Semoga.
“Aku ngga pernah berfikir kalo pada akhirnya, aku bakalan jujur sama kamu. Aku ngga pernah berfikir juga kalo aku bakal buka semua yang aku kira aku bakal simpen sendiri.”
-ADZ
aku juga menuliskan tentang “yang sudah berlalu” di sini ——> http://ikafff.blogspot.com/2013/01/yang-sudah-pergi.html
Halo Ika! Semoga yang berlalu itu bukan sebuah sesal ya. Salam kenal